Tuesday, October 30, 2007

Comments ??

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Ba'da tahmid washalawat.

Ikhwah fillah Rahimahullah.
Kalo ada yang mau bertanya atau memberikan komentar tentang artikel yang dimuat di SALAMSMADA, silakan klik link comments yang terdapat di bagian bawah artikel yang ingin antum komentari.

Akan muncul window baru untuk menulis komentar. Silakan menuliskan komentar, pertanyaan, uneg-uneg atau apapun yang berkaitan dengan artikel yang bersangkutan pada bidang yang telah disediakan.

Yang Perlu Diperhatikan :
Setelah selesai menulis komentar, di bagian Choose an identity, silakan pilih kategori Other. Tulis nama dan tahun kelulusan antum dari SMA 2 Madiun di bagian NAME jika antum adalah alumni SMA 2 Madiun. Jika antum bukan alumni SMA 2 Madiun, cukup tuliskan nama antum saja. Tulis Web Address antum di bagian YOUR WEB PAGE jika antum memiliki Website. Jika tidak, maka kosongkan saja bagian ini. Setelah selesai, selanjutnya klik PUBLISH YOUR COMMENT.

Jika antum ingin melihat komentar yang sudah antum tulis, maka klik kembali link comments yang telah antum klik di awal tadi.Cukup mudah bukan??!
Ana sangat mengharap selain mengirim artikel, teman-teman juga bersedia menulis komentar untuk artikel dari penulis lain yang dimuat di BLOG ini, agar SALAMSMADA menjadi lebih "HIDUP". Ada yang mau berdebat??? Silakan! :-)

Untuk mempererat tali silaturahim, dimohon dengan sangat untuk tidak memilih kategori Anonymous di bagian Choose an identity. Karena jika antum memilih kategori ini, maka nama penulis komentar tidak dapat ditampilkan.

Akhirnya, untuk kesekian kalinya ana berharap dan memanjatkan do'a agar apa yang kita lakukan ini bernilai ibadah, sehingga kita dapat meraih ridha Allah azza wa jalla. Amin.

Jazakumullah Khairan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

ADMIN.

Monday, October 29, 2007

LEBARAN... (sebuah renungan)

Takbir menggema. Menyeruak di tengah hiruk pikuk kehidupan kota yang tak pernah mati. Memecah kesunyian rumah-rumah di tepi pegunungan. Beradu dengan ombak yang berdebur di perkampungan nelayan pinggir pantai. Hati sedih berpisah dengan sang kekasih, bulan penuh rahmat, ramadhan. Namun senyum terukir di ujung bibir, menyambut hari kemenangan. Hari yang penuh dengan kebahagiaan. Segenap jiwa dan raga bersimpuh. Meninggikan asma Allah, Tuhan semesta alam. Raja dari segala raja. Dzat Maha Rahman dan Rahim, paling pengasih di antara yang asih. Riuh gelak tawa anak-anak kecil yang begitu gembira dengan baju barunya. Derai air mata tak tertahan ketika tangan bertemu tangan dalam balutan tali silaturahim. Terbayang segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Tulus dan ikhlas saling memaafkan. Oh…sungguh din ini mengajarkan segala sesuatu yang paling indah di antara yang indah. Menunjukkan jalan yang lurus. Ujian dalam kesenangan, hikmah di antara kerak-kerak kesusahan dan penderitaan.

Tahun ini, Alhamdulillah, Allah berkenan mempertemukan saya kembali dengan bulan ramadhan dan Idul Fitri. Teringat seorang sahabat yang telah dipanggil-NYA terlebih dahulu karena kecelakaan saat saya dan beberapa orang teman pulang mudik dari Jogja. Ia tidak dapat merayakan lebaran bersama keluarga seperti saya dan kebanyakan orang lain. Lebaran kali ini menjadi sedikit berbeda. Karena ia, salah seorang sahabat yang begitu saya cintai, tiba-tiba saja pergi begitu cepat. Tak ada rasa berat di hati. Hanya doa dan harap terpatri dalam hati. Semoga ia beroleh tempat yang mulia di sisi Rabb seisi bumi. Amin.

Selebihnya, tak ada yang berbeda. Sebagaimana jutaan umat muslim di dunia yang lainnya, saya menjalani "rutinitas" tahunan yang bernama lebaran. Dimulai dari sholat Ied berjamaah di masjid. Kemudian dilanjutkan dengan sungkeman pada kedua ortu saya (hmmm...sangat mengharukan) dan silaturahim ke rumah segenap tetangga dan famili. Walaupun ritual ini merupakan acara tahunan, namun tak pernah sekalipun terasa menjemukan. Derai tangis, gelak tawa, terkadang mewarnai. Membuat Idul Fitri semakin bermakna.

Namun, apakah suasana gembira, bahagia dan sukacita ini dirasakan juga oleh muslim sedunia ??? Pertanyaan ini begitu mengusik hati saya. Sehingga kemudian saya mencoba mencari jawabannya. Saya mulai dari yang tak begitu jauh dengan kehidupan saya sehari-hari. JOGJA. Seperti apa suasana lebaran di kota yang (kata dosen saya) 10% penduduknya adalah pendatang ini? Tengoklah perkataan seorang teman yang saya tanyai tentang suasana lebaran di rumah ketiga saya ini. "Sepi buanget Dit! Bar sholat Ied kae, terus wong kampung ngumpul salam-salaman. Bar kuwi wis ora ana acara apa-apa. Dalan-dalan yo sepi. Pokoke turu neng dalan wae yo ora bakal ketabrak motor!" ("Sepi sekali Dit! Habis sholat Ied, orang-orang berkumpul di satu tempat dan saling bersalaman. Habis itu, udah nggak ada acara apa-apa lagi. Jalan-jalan juga sepi. Tidur di tengah jalan juga nggak bakal ada kendaraan yang nabrak!"). Bagaimanakah jika lebaran kita lewatkan dengan kondisi seperti yang dialami teman saya ini? Akankah kita merasakan kebahagiaan yang luar biasa menyambut lebaran seperti saat kita berkumpul bersama seluruh saudara dan sanak famili di kampung halaman kita?

Sekarang kita melangkah lebih jauh. Bagaimana suasana lebaran saudara-saudara kita kaum muslimin di luar Indonesia? Belum lama ini, saya membaca sebuah buletin yang diterbitkan teman-teman aktifis dakwah kampus tentang Ramadhan di Perancis. Perancis adalah salah satu negara Eropa yang cukup banyak penduduk muslimnya. Namun tahukah anda bahwa saudara-saudara kita di sana sangat bergantung pada kalender imsak dan sholat yang diterbitkan Persatuan Umat Muslim Perancis untuk menjalankan ibadahnya? Sahur, sholat, berbuka puasa, semuanya berpedoman pada kalender itu. Ironisnya, meskipun sudah dicetak dalam jumlah banyak, masih ada saudara kita yang kesulitan mendapatkannya. Tidak ada suara merdu para muadzin mengumandangkan adzan seperti yang kita alami setiap hari. Walaupun tentu saja saudara-saudara kita di sana begitu merindukannya. Teman, saudaraku, bagaimana jika kita harus merayakan lebaran di sana? akankah ada kegembiraan seperti yang kita alami saat kita berkumpul dengan handai taulan di kampung halaman?

Mari kita lihat sisi dunia yang lain. Dimana api peperangan tak pernah berhenti berkobar hingga saat ini. Palestina. Tempat berdirinya Al-Aqsha. Masjid yang pernah menjadi kiblat umat Islam. Tanah yang terkoyak tangan-tangan keji zionis Israel. Bagaimana kondisi saudara-saudara kita di sana? Tahukah anda bahwa beribu-ribu kaum muslimin, rakyat sipil Palestina harus meringkuk di penjara-penjara Israel tanpa proses peradilan? Tahukah anda berapa banyak bayi-bayi Palestina yang harus terlahir di penjara-penjara zionis? Pernahkah kita peduli? Sekedar mendoakan mereka? Saat kita terbangun di pagi hari dengan sedikit malas untuk makan sahur, mereka terbangun karena tendangan, tamparan, ataupun pukulan laras-laras senjata serdadu zionis. Saat kita bergegas berangkat ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, mereka harus menjalani interogasi di kamp-kamp konsentrasi zionis yang tak berperikemanusiaan. Disiksa, dianiaya, dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan. Dan saat kita dengan riang gembira berbuka puasa, mereka berbuka dengan darah yang mengalir dari kepala, mata, dan hidung mereka yang membasahi seluruh tubuh.

Akankah kita bahagia jika harus merayakan lebaran di sana ???

ANGGA/2005

Friday, September 07, 2007

Ya Rabbul Izzati

Ya Rabbul Izzah…
Ingin ku menjadi burung yang akan memakan buah-buah…
Segar di tengah lantunan dzikirnya kepadaMu
Dia yang meminum air bersih, sebersih hati sang
Qudwah terbaik….
Ya Rabbul Huda…
Kelemahanku, membuatku ingin seperti langitMu !
LangitMu yang menghampar, terbentang Mahaluas…
LangitMu yang tetap kokoh walau tanpa
Satupun tiang penyangga…
Ya Ghafur….
Tak jarang aku mengetuk pintu MaghfirahMu…
Walau ku tahu pintu itu bagaikan hamparan
Rumput hijau Mahaluas, yang tak pernah tertutup
Bagi siapapun !
Namun, seringai rasa takut akan tertutupnya
Pintu itu untukku terasa bagai baying-bayang yang
Selalu mengikutiku….
Ya Malik….
Walau lidah ini terkadang kelu untuk menguap,
Tapi kutahu pasti bahwa Kau tahu hati ini,
Jiwa ini senantiasa mendamba Ku berkenan
Menyampaikan selaksa rinduku pada sang Qudwah
Yang namanya senantiasa terpatri dalam palung hati ini,
Setelah nama-Mu….
Ya Rahman…
Aku tahu, Mungkin Engkau dan Kekasih-Mu
Belum bisa bangga padaku,
Padaku yang lemah dan khilaf ini.
Tapi sugguh ! Demi selembar ruh yang
Ada di genggaman tanganMu, aku akan
Berusaha berikan yang terbaik, di sela
Iring-iringan tarian waktu, yang setiap saat
Bisa berhenti, tanpa kutahu, kapan…
Ya Wahhab….
Jadikanlah islah dan hijrah hamba
Sebagai bukti di akhirat kelak
Ketika engkau bertanya : “ untuk apa masa mudamu kau gunakan?”
Lalu ku jawab “ untuk islah & hijrah dikarenakan aku
mencintaiMu di atas segala-galanya
lalu kau menjawab “Sadaqta!”
Maka masuklah ke dalam syurgaku dari pintu manapun
Yang kau suka.” Itulah sebaik-baik kenikmatan yang ku tunggu…
Ya Waliyyu…
Jadikanlah hamba orang yang tegar berdiri
Di atas da’wah al haq ilallah
Aku berlindung kepadaMu dari kesia-siaan amal
Dari caci makian mereka yang mencaci
Karena belum mendapat hidayah dari-Mu
Karena kebodohannya atas ilmu-Mu
Ya Sabbar…
Aku bersaksi bahwa tiada illah yang
Berhak disembah & dibodohi selain Engkau,
Rabb semesta alam dan aku bersaksi
Bahwa Muhammad SAW adalah RasulMu
Yang telah menyampaikan risalah secara sempurna
Hingga malamnya seperti siangnya yang terang
Benderang,
Hingga tak ada dusta dan kerancuan…
vivid_2006