Tuesday, February 12, 2008

VALENTINE'S DAY ITU HANYA BUALAN alias OMONG KOSONG BELAKA

If there were no words…no way to speak
I would still hear you
If there were no tears
No way to feel inside, I’d still feel for you

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of time
You’re all I need, my love, my Valentine

Pernah mendengar lantunan lagu dari lirik di atas? Yup, itu adalah penggalan lagu wajib bulan Februari yang berjudul Valentine. Dengan suara merdu Martina McBride diiringi lantunan piano ciamik dari Jim Brickman, lengkap sudah nuansa syahdu yang dihadirkannya. Apalagi kalo kamu lagi poling in lop (falling in love), huaaa….suasana Februari yang mellow jadi semakin biru…. (eh, pink kali yee..).

Kehebohan Valentine’s Day (VD) sebagai sebuah perayaan hampir-hampir menjadi menu wajib dan menggantikan hari besar lainnya. Coba bandingkan peringatan Isra’ Mi’raj, dan Maulid Nabi dengan Valentine’s Day. Jauh banget dah. Peringatan hari besar Islam identik dengan ceramah, dihadiri oleh sosok berjenggot dan perempuan berjilbab, dan dirayakan secara sederhana. Itu semua bagi sebagian orang dianggap sebagai simbol kuno.

Sebaliknya dengan perayaan VD yang identik dengan pesta sambil membawa pasangan lawan jenis masing-masing, baju rapi jali bagi yang cowok dan gaun malam yang setengah telanjang bagi si cewek, dan perayaan secara mewah. Inilah simbol yang katanya modern yang banyak diikuti remaja.
Anak SD, SMP, SMA, hingga kuliah bahkan yang sudah kerja pun merasa bahwa merayakan hari Valentine adalah wajib. Didorong oleh media baik elektronik semacam TV dan cetak semisal surat kabar, majalah dan tabloid, momen Valentine’s Day ini sengaja di blow-up oleh pihak-pihak tertentu. Seakan-akan ada rasa malu dan ketinggalan jaman bila sampai tidak ikut merayakan hari yang katanya penanda kasih sayang itu.

Valentine, bukan budaya kita
Sudah banyak tulisan yang membahas tentang hal ini. Kalo kamu rajin browsing internet dan banyak baca artikel di sana, akan terlihat bahwa Valentine bukanlah milik kita. Sedikit mengulas bahwa ada beberapa versi yang menyebutkan darimana asal muasal perayaan VD ini. Ada versi yang mengatakan bahwa hari Valentine adalah perayaan untuk mengenang pendeta Valentino yang mati karena membela keyakinannya. Ada juga yang bilang pendeta ini mati karena membela cinta dua jenis anak manusia padahal gereja telah melarangnya. Bahkan ada versi yang mengatakan bahwa pada tanggal14 Februari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu.
Dari sekilas penjelasan di atas, kamu-kamu jadi ngeh kan bahwa sesungguhnya budaya hari Valentine dan merayakannya bukan berasal dari Islam.
‘Kan boleh, cuma sekadar ikut merayakan saja. Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang universal?’ Mungkin sebagian dari kamu berdalih begitu.
Oke, tapi bagi kaum muslimin, kita udah diwanti-wanti sama Allah Swt. melalui firmanNya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa [17]: 36)

Nah, inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya sekadar ikut, cuma ngikut atau ikut-ikutan saja. Sebelum melakukan suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana Islam menyikapinya. Ini mendidik kamu, para remaja muslim, agar tidak menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya. Islam mengajak kamu untuk cerdas dalam menyikapi sesuatu.

Tidak ada kata “cuma” dalam kehidupan seorang muslim. Itu karena tiap perbuatan meskipun itu sebesar debu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Begitu juga dengan perayaan Valentine. Banyak orang berdalih untuk membenarkan dirinya sendiri ketika ia turut larut dalam perayaan ini. Atau, meskipun ia tidak turut merayakan, tapi ia juga tidak melarang. Walah, ragu-ragu maksudnya? Begitulah, di satu sisi orang seperti ini takut dicap fanatik, tapi di sisi lain ia juga takut dianggap ketinggalan jaman. Jadilah, antara bilang iya dan tidak dalam penyikapannya.

Valentine, sarana perusak generasi
Rasulullah saw. Bersabda: Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim)

Bukan karena Rasulullah pinter meramal ketika apa yang dikatakan beliau ternyata benar adanya. Tapi karena beliau khawatir terhadap kebodohan umat yang semakin meluas. Kebodohan inilah yang menjadi penyebab kaum muslim yang seharusnya sebagai umat terbaik, malah menjadi umat pengekor. Dan ternyata, semua itu menjadi kenyataan ketika kita melihat kelakuan remaja-remaja sekarang yang bisanya cuma mengikut budaya Barat.

Emang sih, nggak semua yang berasal dari Barat itu buruk. Tapi dalam hal perayaan hari Valentine ini jelas-jelas buruk dan merusak generasi muda. How? Pertama, mulai dari asal muasalnya aja udah jelas-jelas nggak benar menurut pandangan Islam untuk ikut merayakan. Kedua, yang namanya merayakan Valentine, umumnya sama pasangan alias kekasih atau pacar. Ketiga, kalo udah mulai urusan pacar-pacaran begini, mau dibawa kemana hubungan dua anak manusia berlainan jenis kelamin ini? Gaul bebas? Sangat mungkin!

See, nggak kekurangan cara musuh Islam untuk merusak kaum muslimin termasuk generasi mudanya. Seiring dengan semakin bebasnya teknologi informasi berupa alat telekomunikasi, budaya merayakan Valentine ini dengan mudah masuk ke kamar-kamar kita. Bisa lewat surat kabar, majalah remaja, radio, TV, internet, HP, dll.

Bo’ong besar kalo ada yang bilang bahwa Valentine adalah hari kasih sayang. Kalo memang seperti itu, kenapa juga yang dijadikan sasaran adalah anak-anak muda? Kenapa bukan ibu-bapak kita, kakek-nenek kita? Soalnya jauh lebih strategis merusak generasi yang bakal menjadi penerus peradaban alias pemuda. Kalo pemudanya rusak, ho ho ho, mudah banget merusak sendi lainnya. Betul itu.

Valentine, wajah buruk budaya Barat
Valentine’s Day diyakini sebagai hari kasih sayang. Ah, masa’ iya sih? Jangan mudah kamu dibodohi oleh slogan semacam ini. Why? Karena kalo beneran mereka yang suka menjajakan Valentine itu memang merayakan kasih sayang, tanya buktinya. Angka perceraian tinggi, anak-anak menjadi rusak karena brokenhome, prostitusi merajalela bahkan disahkan oleh negara, aborsi juga legal, para orang tua ditelantarkan di panti jompo dll. Inikah kasih sayang yang bisa dicontohkan oleh mereka?

Lalu sekarang coba tengok ke arah Timur. Irak hancur lebur, muslimahnya jadi korban perkosaan para tentara Barat, anak-anak kecil dan orangtua serta warga sipil dibantai tanpa ampun, negerinya dijajah dan porak-poranda. Belum lagi Afghanistan, Bosnia, Chechnya, bahkan Indonesia. Semuanya dijajah. Bila tidak secara fisik, pastilah secara ekonomi dengan hutang yang diwariskan pada anak cucu kita. Secara budaya, salah satunya adalah memaksakan perayaan Valentine ini ke generasi muda kita. Waspadalah! Waspadalah!

Pheww….ternyata jauh banget ya kenyataan dengan syahdunya lirik lagu di atas? Jaka sembung bawa kebo, nggak nyambung bo’.
Masa’ iya sih, setelah tahu hakikat asli wajah buruk di balik Valentine, kamu masih suka-cita menyambutnya? Nyadar euy!
Valentine itu hanya sebuah momen bagi para kapitalis yang mata duitan untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya. Coklat, boneka, dan bunga jadi laris manis. Begitu juga dengan kartu sok romantis padahal aslinya cuma pingin mendapat kecup manis dari sang gebetan. Walah, naudzubillah banget.

Campakkan Valentine!
Yo’i, saatnya kita mencampakkan budaya yang jelas-jelas nggak memberi manfaat apa pun pada kita, kaum muslimin. Kalo hanya dengan alasan kasih sayang, Islam adalah sumber dan muara kasih sayang itu sendiri. Mulai dari haramnya aborsi karena setiap anak punya hak hidup, naluri sayang seorang ibu juga dijaga agar tidak dirusak oleh paham atas nama kebebasan. Begitu juga dengan penghargaaan seorang anak yang tinggi untuk menghormati ibu dan bapaknya. Nggak ada konsep penitipan panti jompo dalam Islam. Toh, betapa pun tuanya orangtua kita, merekalah yang dulu pernah melahirkan dan membesarkan kita dengan kasih sayang. Tul kan?

Hubungan laki-laki dan perempuan bila ingin berkasih-sayang, ada sarananya. Pernikahan. Di sinilah satu sama lain diajari untuk mengenal kasih-sayang sejati yang diikuti tanggung jawab. Bukan hanya bisa memberi bunga, coklat dan boneka tanpa berani berkomitmen dan maunya sekadar pacaran mulu. Tapi Islam mengajarkan cowok untuk jadi laki-laki sejati, begitu dengan para cewek. Jangan mau digombali hanya dengan rayuan tak bermutu.

Bukan hanya dengan sesama manusia, kasih sayang dianjurkan oleh Islam untuk diberikan juga pada makhluk lainnya semisal hewan, tumbuhan dan lingkungan. Hewan boleh disembelih sewajarnya untuk kebutuhan umat manusia. Tidak boleh menyiksa apalagi menyakitinya. Jangan malah kebalik. Banyak orang kafir itu yang tidak mau menyakiti binatang, tapi malah hobi membantai umat manusia terutama kaum muslimin.

Tumbuhan juga harus diperlakukan dengan seharusnya. Tidak boleh ada eksploitasi hutan demi memuaskan nafsu para kapitalis yang haus duit.
Mereka yang suka gembar-gembor Valentine’s Day dan kasih sayang, malah mereka juga yang enggan untuk melindungi dan menyayangi bumi. Contohnya Amerika tuh yang menolak peduli terhadap efek global warming atau pemanasan global. Ozon yang semakin menipis karena efek rumah kaca, toh itu juga banyak berasal dari negaranya yang penuh dengan gedung bertingkat dan pemakaian freon secara berlebihan.

Kalau sudah begini, kamu masih percaya dengan Valentine’s Day adalah hari kasih sayang? Universal pula? Naif banget kalo iya. Moga aja dengan artikel sederhana ini kamu tersadar akan bualan nggak bermutu tentang makna kasih sayang. Cukup Islam saja sebagai tolok ukur dalam seluruh perbuatan kita. Insya Allah pasti selamat dunia-akhirat. Dijamin!

So, mari kita campakkan Valentine dan ambil Islam saja sebagai the way of life yang penuh kasih sayang. Yuk, kaji Islam biar cerdas dan takwa. Setuju?????


sumber: www.dudung.net

vivid/2006

Sunday, February 03, 2008

Renungan 2

JALAN DAKWAH…………….

Jalan dakwah memang bukanlah jalan yang mulus bertabur bunga.

Tetapi ia adalah jalan yang panjang yang penuh onak dan duri.

Jalan ini tidak mudah dilalui, kecuali oleh orang-orang yang ikhlas di dalamnya.

Ia akan menyeleseksi para pengusung dakwah, siapa yang benar-benar ikhlas dan siapa yang hanya berpura-pura.

Namun, biarpun jalan ini sangat berat, janganlah kalian meninggalkannya.

Janganlah dunia memalingkanmu dari cahayaNya.

Jika kalian meninggalkan dakwah, maka jangan cemburu jika ternyata dakwah memilih bersama dengan yang lain.

Nb: ukhti fillah, jaga SEMANGAT jihad antum ya. Meskipun kita jauh, hati-hati kita selalu terikat dengan tali ukhuwah. Jadilah seorang MUJAHIDAH yang TANGGUH!! Seorang mujahidah yang tak akan berhenti dalam berjuang, yang tak akan menyerah dengan kegagalan, yang tak akan lemah karena cacian. Ana pesen kepada antum semua, JADILAH AKHWAT YANG LUAR BIASA YA!! Masa depan dakwah ini ada di tangan kita semua. ALLAHU AKBAR!!!

ANIK RAHMAWATI (UNAIR)

Thursday, January 31, 2008

“Intan Tetap Intan Walau Dalam Mulut Anjing.”

Sebuah peribahasa yang sudah saya hafal sejak saya masih di Sekolah Dasar. Peribahasa ini sangat istimewa buat saya. Nasihat yang mulia tetap saja mulia, dari mulut siapapun nasihat itu terucap.

Setahun lalu secara tidak sengaja saya mendapat kesempatan yang mungkin akan terasa luar biasa bagi sebagian orang. Hari itu, 26 Juli 2006 kurang lebih jam 9.51 saya mendengarkan siaran sebuah stasiun radio yang cukup terkemuka di Jogja. Belum lama saya menyalakan radio, penyiarnya mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan melakukan interview by phone langsung dari Los Angeles, Amerika Serikat dengan Brian Littrel. Siapa Brian Littrell? Mungkin anda bertanya-tanya, siapa gerangan dirinya. Bagaimana kalau Brian BSB? Kalo masih bertanya-tanya juga, maka saya yakin Insya4WI anda akan ngeh jika saya sebut dia Brian Backstreet Boys. Ya, Backstreet Boys. Boy band yang sangat terkenal di era 90-an. Brian Littrell adalah salah satu personelnya. Dia diwawancara seputar peluncuran album solo terbarunya.

Saya menyebut ini kesempatan yang luar biasa bukan karena dia Brian Littrell. Bukan karena dia personel Backstreet Boys. Bukan pula karena album solonya. Meskipun memang saya akui bahwa mendengar suara seorang Brian Littrell dari radio secara langsung adalah suatu hal yang sangat jarang bisa saya alami. Dalam interview yang berlangsung hanya sekitar sepuluh menit itu, ada sebuah momen yang sangat membekas di hati saya. Menjelang akhir wawancara, si penyiar mengatakan bahwa Jogja baru saja terkena gempa bumi kira-kira dua bulan yang lalu. Mendengar apa yang dikatakan si penyiar, Brian sepertinya kaget. Dia sempat speakless beberapa saat. Rupanya dia sama sekali tidak tahu bahwa saat itu di Jogja baru terjadi gempa. Meskipun berbagai negara termasuk negaranya telah mengirim bantuan ke sini. Bahkan di salah satu partai FIFA World Cup 2006, sempat digelar acara mengheningkan cipta bersama untuk para korban gempa jogja sebelum pertandingan dimulai.

“It wasn’t good news”, kata Brian beberapa waktu itu. Dia lalu berbicara lebih panjang lagi. Tentang bagaimana umat manusia harus saling membantu satu sama lain. Bahwa dewasa ini seharusnya negara-negara di dunia makin meningkatkan kerjasama demi kebaikan bersama. Kebaikan seluruh dunia.

Sebuah ekspresi yang sangat tulus dari seorang manusia yang hidup di Amerika. Negara yang pemerintahnya dikritik dan dihujat banyak bangsa di seluruh dunia bahkan oleh rakyatnya sendiri karena dianggap bersikap arogan, menerapkan standar ganda, sok jadi global cops dan lain-lain. Mungkin ada orang yang beranggapan kata-kata Brian klise bahkan mungkin memvonis munafik. Brian sendiri tidak sekedar basa-basi. Semasa kecil Brian adalah seorang anak yang kurang beruntung. Ia pernah mengalami kelainan jantung dan hampir saja kehilangan nyawanya. Sekarang dia membina sebuah foundation dengan istrinya untuk menolong anak-anak yang senasib dengannya. Dia telah mengambil “bagian”-nya. Membantu orang lain dengan segenap kemampuannya.littrell

Saya teringat perkataan Aa’ Gym dalam salah satu ceramahnya. Saat itu beliau menggunakan Mother Theresa sebagai contoh orang yang dengan tulus mau membantu orang yang berada dalam kesusahan. Lalu beliau berkata, “Mungkin ada yang bertanya mengapa saya mengambil orang yang bukan Islam sebagai contoh. Saya akan balik bertanya,kenapa tidak? Kenyataannya memang begitu, kok?!”

Ikhwati fillah, yang ingin saya coba katakan di sini sebenarnya adalah kita tidak perlu malu, segan atau enggan mengambil contoh kebaikan, dari manapun asalnya. Bahkan dari orang yang paling kita benci sekalipun. Ketika kita mendengar perkataan orang seperti Brian, tidak perlu kita menyanggah atau menimpalinya hanya karena dia orang Amerika. Kalau Brian sendiri dan mungkin sebagian besar warga AS yang peduli ditanya pendapatnya tentang invasi tentara AS ke Irak atau penjajahan Israel di Palestina, belum tentu ia termasuk orang yang mendukung. Tidak perlu lalu kita mengatakan, “Ah, munafik. Nyatanya pemerintah Amerika mengirim bantuan untuk Israel. Mungkin saja dana yang dipakai AS untuk membantu Israel sebagian bersumber dari pajak yang dibayar Brian. Sebenarnya, Brian sendiri secara tidak sadar sudah berperan dalam terjadinya tragedi demi tragedi di dunia Islam selama ini. Jadi buat apa dia bicara soal kemanusiaan?!”

Berbagai ungkapan ketus mungkin keluar dari mulut kita. Begitu juga ketika orang di luar Islam memberikan contoh yang mulia kepada kita dalam hubungan sesama manusia. Mulia dalam pandangan manusia kebanyakan, dan mulia dalam perspektif Islam. Beberapa orang dari kita yang kurang bisa berlapang dada, mungkin di dalamnya termasuk diri saya sendiri cenderung menyikapi dengan negatif. ”Tidak perlu cari contoh dari luar Islam. Emangnya di dalam Islam nggak ada orang yang bisa dicontoh?! Paling mereka berbuat begitu karena ingin menarik perhatian kita saja, untuk kemudian menjerumuskan kita!”

Ikhwati fillah, tentu saja kita tidak kekurangan figur yang bisa dijadikan contoh.

Namun, jika memang ada orang di luar Islam yang mampu memberi contoh yang baik bagi kita, misalkan saja etos kerjanya yang tinggi, atau ketekunannya dalam menuntut ilmu, tentu kita tidak perlu takut untuk menirunya. Mengapa harus takut? Apakah dengan mencontoh etos kerjanya, lalu serta merta kita mengikuti Aqidahnya? Tentu saja tidak.

Nasehat yang mulia dan contoh yang baik bisa datang di mana saja, kapan saja dan dari mulut siapapun. Kadang dari orang yang sangat kita hormati, dan bisa saja dari orang yang sangat kita benci. Ketika datang nasehat yang baik bagi kita, berlapang dadalah untuk mendengarkan dan melaksanakannya. Siapapun yang mengatakannya.

Ketika mungkin kita punya teman yang berpenampilan sangat tidak enak dipandang menurut kita misalnya. Gaya rambut Mohawk, telinga, alis, dan lidah ditindik, celana sobek-sobek dan seterusnya namun ternyata sangat jujur, maka lihatlah kejujurannya terlebih dahulu sebelum melihat dandanannya. Contoh kejujurannya tanpa mencontoh gaya berpakainnya.

Ketika mendengar perkataan Brian. Jangan lihat dia sebagai orang Amerika. Toh tidak semua American memilih dan mendukung Bush. Bahkan kalau diadakan angket bagi seluruh penduduk dunia tentang siapa tokoh dunia yang karakternya paling mirip Bush, sebagian besar orang mungkin akan menjawab Hitler. Lalu sebagian yang lain menjawab Mussolini atau Slobodan Milosevic. Lihat dan dengarkanlah himbauan Brian yang sangat mulia.

Intan tetap intan, walau dalam mulut anjing. Tentu saja saya tidak bermaksud menyamakan siapapun dengan anjing di sini. Ini hanyalah ungkapan yang ekstrim serta hiperbolis untuk menggambarkan secara singkat apa yang ingin saya katakan dan apa yang saya maksudkan.

“Dengan perdamaian dan persaudaraan, Insya4WI dunia jadi lebih baik.”

“Perang adalah pelecehan terbesar terhadap intelektualitas manusia”

“Palestina milik muslim sedunia”

“Allahuakbar !”

Wallahu a’lam bish-showab.

Angga/2005